MANDIRIKAN PASIEN HIPERTENSI

http://www.nirmala.co/laporan-khusus/item/539-memandirikan-pasien-hipertensi
Pintu masih terbuka lebar bagi pasien hipertensi untuk melepaskan diri dari ketergantungan obat, bahkan menemukan kesembuhannya, asal mampu memahami penyakit dan  segera mengubah gaya hidupnya.

Kesembuhan yang dialami oleh Effendi Kurniadi (39 tahun), ayah dua orang anak, penderita hipertensi parah (240/ 140 mmHg) hingga mengalami stroke (lumpuh separo badan bagian kiri) ini seolah sebuah mukjizat. Setelah mengikuti terapi dengan mengubah gaya hidup yang lebih selaras alam –  intinya mengubah pola makan –   Effendi mampu bangkit dan menemukan kembali kehidupan yang sehat.

Dalam waktu sekitar 3 bulan berat badannya turun 40 kilo – dari 105 kilo ke 65 kilo – tekanan darahnya kembali normal tanpa minum obat ataupun mengikuti program latihan khusus, dan secara berangsur kaki-tangannya bisa digerakkan dan berfungsi normal  kembali.

Kesembuhan yang sangat ‘wah’ ini masih disertai bonus yang tak ternilai, demikian pengakuan Effendi, yaitu  munculnya kesadaran baru  yang membuatnya bisa memahami sumber penyakitnya selama itu. Dengan demikian Effendi menjadi lebih bertanggungjawab terhadap kesehatannya sendiri. Kini matanya terbuka lebar sekaligus merasa sangat menyesal menjalani gaya hidup amburadul yang telah memicu gejala hipertensinya.

Pasangan  Nurmadjito dan Ismana, 62 tahun, juga merasa menemukan hidup baru atas hasil terapi yang mereka jalankan saat ini. Hanya dalam waktu sekitar sebulan, dengan dipandu dokter, mereka berhasil mengendalikan tekanan darah tanpa bantuan obat. Dalam waktu sesingkat itu berat badan sang suami turun sepuluh kilo –  76 kilo menjadi 66 kilo – bersamaan dengan stabilnya tekanan darah pada kisaran angka 110/80. mmHg – 110/90 mmHg.

Sebelumnya, sudah lebih dari 20 tahun mereka tidak  bisa lepas dari berbagai macam obat dalam mengusahakan agar tekanan darah tidak naik-turun bak roller coaster. Ini sangat penting  untuk menjaga kondisi jantung sang suami yang telah terdeteksi lemah agar tidak semakin memburuk. Sementara hipertensi pada Ismana yang melemahkan fungsi ginjalnya,  terapi yang dijalani membuat fungsi ginjal sang istri juga mengalami kemajuan pesat, seiring bangkitnya harapan terbebas dari ancaman cuci darah.

"Yang menyembuhkan Kurniadi dan pasangan Nurmadjito adalah diri mereka sendiri," kata Dr Tan Shot Yen, MHum, yang merawat mereka. Menurut Dr Tan, dokter sebagai ilmuwan dan professional coach hanya membimbing pasien dalam mencari jawaban mengapa tekanan darahnya naik. Jika penderita sudah mampu melihat ke dalam dirinya, pasien akan menemukan peran dalam mengendalikan kesehatannya sendiri, baik ‘sekadar’ gejala darah tinggi ataupun kesejahteraan seutuhnya. Pasien pun akan mampu mandiri tidak bergantung pada dokternya.

Memahami gejala darah tinggi

Begitulah, tekanan darah tinggi yang dibiarkan berlarut-larut bisa berujung pada pecahnya pembuluh darah di otak (stroke) sebagaimana yang dialami Kurniadi. Risiko lain bisa berupa gangguan dan  serangan jantung ataupun memburuknya fungsi ginjal, seperti pada kasus Ibu Nurmadjito.

Memang  hipertensi  tidak menunjukkan gejala yang jelas. Itu sebabnya ia disebut  the silent killer , penyakit yang membunuh dengan diam-diam. Satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan pengukuran tekanan darah secara teratur dan memahami arti angka-angka hasil pengukuran serta penyebabnya.

Tekanan darah yang dikatakan  normal  adalah 120/80 mmHg. Angka 120 disebut sistolik, menunjukkan daya dorong darah dalam pembuluh  akibat  jantung berkontraksi.Angka ini sangat labil dan bisa berubah-ubah dalam waktu relatif singkat, antara lain karena aktivitas fisik – bahkan yang ringan sekalipun – atau peningkatan emosi sesaat. Sedangkan  angka 80 – disebut diastolik, yang relatif lebih resisten karena tak terpengaruh  aktivitas fisik ringan dan emosi. Angka kedua ini menunjukkan kekuatan menahan pembuluh darah saat jantung mengendur.

Hipertensi bisa terjadi karena mekanisme atau fungsi pengaturan  yang abnormal dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.  Penyebabnya  bisa berbagai kemungkinan, namun sebagian besar – sampai 90% hipertensi – tidak diketahui penyebabnya dengan  pasti. Orang bilang sudah dari sononya, atau karena bertambahnya umur. Ini yang disebut hipertensi esensial atau primer.

Sedangkan hipertensi sekunder atau non-esensial  adalah hipertensi yang bisa diketahui secara pasti penyebabnya, misalnya karena gangguan ginjal, fungsi hormon, minum pil KB. Hipertensi non esensial masih terbuka bagi berbagai intervensi untuk pengendaliannya, bahkan bisa dicegah. Mengapa gejala hipertensi kebanyakan muncul setelah mencapai umur  setengah baya atau ketika mulai menua ?  Kualitas gaya hidup semacam apa yang dijalani selama itu ?

Memahami Konsep Hemodinamika

Memahami tekanan darah berarti memahami sistem kardiovaskuler, pembuluh, dan darah. Begitu penjelasan Dr Tan yang juga pemilik  Dr Tan Wellbeing Clinic, yang berlokasi di kawasan Serpong, BSD ini.  Menurutnya, diameter tabung atau pembuluh (darah) berbanding terbalik dengan tekanan. Ini berlaku pula pada tubuh manusia. Itu sebabnya  jika terjadi  penyempitan  pembuluh darah, tekanan darah pun akan melejit naik.

"Maha Besar Tuhan yang menciptakan tubuh manusia  dengan seutuhnya, lengkap dengan mekanisme menyeimbangkannya," lanjut Dr Tan Shot Yen. Maka perlu dipahami angka hasil pengukuran tekanan darah dalam ritme kehidupan sehari-hari.

Waktu pengukuran

Pagi hari tensi cenderung tinggi, siang rendah.  Hal ini wajar, karena saat manusia melakukan aktivitas, terbentuk  panas tubuh. Panas ini pun  menyebabkan pelebaran  pembuluh darah. Setelah pembuluh darah memuai dan melebar, tekanan darah berkurang/ turun.

Selain waktu, ada beberapa hal lain yang mempengaruhi tinggi-rendahnya hipertensi, yaitu:

Usia

Tekanan darah orang lanjut usia relatif tinggi karena pembuluh  darah yang sudah penuh plak. Penyempitan pembuluah tak ayal lagi menyebabkan tekanannya juga menjadi tinggi.

Aktivitas

Saat otak dan seluruh sel tubuh membutuhkan asupan oksigen lebih banyak karena kebutuhan energi sel meningkat (berolah raga berat atau berpikir, bahkan kondisi stres), jantung akan memompa lebih cepat dan pembuluh darah menciut agar hemodinamika berlangsung lebih cepat. Akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah.

Sebaliknya, efek relaksasi dan kondisi nyaman membuat otak dan seluruh sel tubuh mengalami cooling down yang berdampak positif pada tekanan darah hingga kembali ke angka normal. Hipertensi menjadi tidak normal saat kondisi stres dan hidup yang serba terburu-buru ini berlangsung terus-menerus. "Yang terjadi sekarang, manusia ingin tensinya tetap normal dengan gaya hidup serba stres. Ini melawan hukum alam.  Bisa celaka,"  kata Dr Tan.

Waspadai  the white collar hypertension

Yang perlu  dikembangkan adalah sikap kritis atau tidak cepat panik saat melihat hasil pengukuran tekanan darah yang cenderung tinggi, mengingat sudah banyak terjadi hipertensi tersebut bersifat semu.  Sebagai contoh : tekanan darah tercatat tinggi saat diukur di klinik, rumah sakit ataupun tempat praktik dokter, sementara jika diukur di rumah oleh anggota keluarganya sendiri, hasilnya normal saja.  Kenaikan tekanan darah yang hanya gara-gara rasa cemas atau takut pada dokter yang berjas putih  dikenal dengan istilah white collar hypertension.

Rasa cemas atau takut  ketika berhadapan dengan dokter merangsang sel saraf simpatik. Ini berpengaruh pada otot pembuluh darah yang mengerut dan denyut jantung yang makin cepat. Akibatnya tekanan darah naik.

Cara mudah untuk menghindari vonis hipertensi semu ini adalah dengan melakukan sendiri pengukuran  tekanan darah di rumah, menggunakan tensimeter air raksa atau digital  yang terstandar atau selalu terkontrol akurasinya, demikian anjuran Dr Tan.

Dokter  sebagai ilmuwan dan professional coach

Tugas dokter bukan sekadar mengobati, tetapi juga mengajar pasiennya.  Begitu juga dalam upaya memandirikan pasien hipertensi dan penyakit lainnya. Dalam menjalankan profesinya, seorang dokter mengusung 4 pilar kesehatan masyarakat :

preventif  (pencegahan)
promotif  (meningkatkan  derajat kesehatan)
kuratif  & paliatif  (pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien)
rehabilitatif. (pemulihan)
Sayangnya, sekarang ini bidang kuratiflah yang paling banyak menyedot perhatian sehingga menyuburkan industri farmasi dengan menawarkan iming-iming obat "ces pleng" yang menyembuhkan penyakit serta mengabaikan sumber penyakitnya. Cara ini banyak memikat hati anggota masyarakat zaman sekarang yang serba mau cepat, jalan pintas, tak mau repot. Pasien pun dininabobokkan oleh "keajaiban" obat-obat  yang justru mematikan alarm tubuh.

Akibatnya, banyak orang yang sudah minum obat hipertensi selama hidupnya, toh tak terbebas dari stroke  seperti yang dialami Effendi Kurniadi. Banyak pasien yang mengonsumsi obat darah tinggi justru mengalami gagal ginjal.

Ini terjadi karena pasien menganggap dengan minum obat,  masalahnya beres.  Padahal, selama  penyebab hipertensi tidak ditangani, walaupun rajin berobat, ia akan tetap memanen bonus penyakit-penyakit susulan lainnya.

"Mengobati tidak sama dengan menyembuhkan," ucap dokter dan konsultan kesehatan yang memperdalam bidang filsafat dan gizi ini.

Melakukan transformasi gaya hidup

Pasien yang mandiri berarti pasien yang sudah mampu mengubah gaya hidupnya  berdasarkan cara pandang baru terhadap kesehatannya.  Misalnya jika dulu melihat olahraga  sebagai sebuah keharusan yang tidak menyenangkan, dengan pemahaman baru ia akan melakukan olahraga karena memang meyakininya sebagai kebutuhan fungsi tubuhnya.

Perubahan gaya hidup yang diusulkan  pada  pasien haruslah memenuhi beberapa faktor:

Acceptability. Cara terapi yang diberikan dokter  mudah dilaksanakan oleh pasien dan dapat diterima, baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya. Misalnya,  pasien golongan kurang  mampu jangan disuruh punya treadmill, atau lansia yang tidak bisa berenang disuruh belajar renang.

Sustainability. Kesinambungan terapi tetap terjada; meski sudah tidak dipandu dokter, pasien tetap bersemangat menjalankan terapinya dengan penuh kesadaran.

Replicablility. Metodenya baku sehingga bisa ditiru,  diulang, dan diajarkan untuk pasien-pasien lain.
Jadi tidak berlebihan jika seorang dokter akan terus menjalin komunikasi dengan pasiennya walau pasien telah sembuh, untuk mengontrol aspek-aspek perubahan di atas. Pasien perlu mendapat apresiasi setiap kali berhasil mencapai kemajuan, atau pembahasan jika mencapai hal yang sebaliknya.

Tubuh manusia adalah jasad hidup yang kompleks, sehingga untuk sampai pada tahap sakit (dalam hal ini hipertensi)  tentu ia sudah melewati berliku-liku kondisi selama tertahun-tahun. Maka, untuk menyembuhkannya kembali perlu kesabaran mengurai lika-liku itu.  Syaratnya, bersahabatlah  dengan semua tanda-tanda yang diberikan tubuh, dan apresiasi setiap kemajuan kecil yang diraih. Dan selama tidak terjadi sabotase atau  kembali masuk ke pola lama, dengan kesabaran dan ketekunan, tubuh akan sehat kembali.

Bagi pasien yang telah mandiri,  seperti Effendi Kurniadi misalnya,  masa berperang melawan penyakit sudah tidak ada lagi. Selama sakit pun sebenarnya yang dilawan adalah dirinya sendiri.  Itulah mengapa banyak pasien merasakan penyakit  hipertensi begitu   ‘melelahkan’. (N)

Pemeriksaan Tekanan Darah, Yang Masih Diabaikan

Menurut pengamatan Dr Tan Shot Yen terhadap kebiasaan pasien-pasiennya, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak yang mengabaikan hal-hal berikut:

Untuk lebih memberdayakan pasien, perlu dilakukan pengukuran tekanan darah sendiri di rumah secara benar. Artinya, dengan alat yang dibeli sendiri dan dipastikan alat tersebut dalam kondisi  baik (terstandar/ ditera). Sebaiknya alat tidak dipakai secara bergantian dengan orang lain agar peneraannya tidak berubah-ubah.
Dianjurkan  pemeriksaan dilakukan oleh salah satu anggota keluarga atau orang lain di rumah, bukan oleh pasien sendiri untuk menghindari kondisi pasien yang makin  stres karena mengukur tensinya sendiri. Dengan melibatkan anggota keluarga yang lain akan tumbuh rasa saling peduli  antar anggota keluarga.  Perhatian seperti ini akan sangat memberi  rasa aman dan tenang  bagi si penderita.
Pasien diajarkan membuat daftar tensi sehari-hari  (selama 3-6 bulan) dan memahami tujuan pembuatan daftar hasil pencatatan ini. Dari angka harian itu bisa dilihat atau dibuat grafik naik-turun tensi sehari-hari. Sekaligus dicatat penyebab angka-angka yang ekstrem. Ini penting sebagai bahan diskusi dengan dokter untuk membuat analisa. Karena apa yang berjalan baik dan tidak baik bagi pasien perlu dipahami bersama oleh pasien dan dokternya.
Lakukan pemeriksaan tekanan darah rutin, sehari 4 kali, yaitu bangun tidur, siang, sore, serta malam hari setelah tidur sekitar 15 menit.
Pemeriksaan pagi-siang-sore  di saat terjaga adalah pengecekan tensi saat pancaindera sedang on sehingga berbagai stimulus di sekitar pasien tertangkap pancaindera.  Sedangkan pemeriksaan tensi pada 15 menit setelah tidur dilakukan sebagai bandingan jika tidak ada stimulus dari luar.
Perhatikan presisi pengecekan, misalnya posisi pasien saat pengecekan.  Sekali diperiksa dalam posisi rebah atau tiduran, maka pemeriksaan yang lain juga harus dilakukan dalam posisi ini.  Karena perbedaan posisi tubuh pasien bisa menyebabkan perbedaan tekanan (prinsip hukum fisika cairan). Dari sini bisa diduga hipertensi ini dipicu stres yang berasal dari pikiran sehingga bisa ditentukan langkah pengendaliaannya, yaitu  mengolah pikiran. lewat meditasi, dzikir, shalat,  ataupun mengolah pikiran untuk bisa lebih bersyukur dan pasrah.




BANYAK  CARA  KENDALIKAN  HIPERTENSI

Selama ini ada anggapan bahwa yang disebut sebagai pendekatan multidislipiner pengendalian hipertensi itu dimulai dari  faktor makanan.  Tetapi kenyataannya, belum banyak  yang memahami apa sebenarnya  makanan sehat.  Faktor lain, adalah pengendalian emosi , serta gerak tubuh. Meditasi, dzikir, dan shalat hanya merupakan salah  satu pendekatan  yang harus dilengkapi dengan hal-hal lain.

Nutrisi Pengendali Hipertensi

4 foto pakar content lapsusAndang Gunawan ND: “Obat hanya penyembuh gejala yang bersifat sementara, bukan  menyembuhkan penyakitnya .“

Hipertensi bukan penyakit tapi sekadar gejala yang disebabkan menurunnya fungsi organ metabolisme, khususnya liver, pancreas, dan ginjal. Hal ini bisa terjadi, antara lain, karena dipicu oleh pH darah  yang asam sehingga konsistensi darah menjadi lebih pekat. Selain berpengaruh pada tekanannya, kondisi semacam ini juga menghambat penyaluran nutrisi ke organ-organ. Karena kekurangan nutrisi, organ dan sistem metabolisme tak berfungsi secara optimal. Yang terjadi adalah:

Darah menjadi asam karena pola asupan makanan yang dominan pembentuk asam. Jadi sebaiknya batasi konsumsi makanan pembentuk asam, misalnya gula, karbohidrat beserta produk-produk olahananya.
Pengidap hipertensi umumnya mengalami defisiensi  asupan kalsium, magnesium,  zat besi, dan kromium. Perbanyak makan sayur dan buah segar; karena kaya mineral untuk menetralisir  kelebihan garam.
Kurangi makanan bergaram, termasuk makanan yang sudah diproses pabrik yang mengandung bahan-bahan pengawet , penambah rasa, pewarna, yang semuanya itu adalah garam.  Stop minuman beralkohol yang hanya akan menambah keasaman darah.
Buat makanan lezat dengan  cara memperbanyak bumbu  rempah untuk menggantikan  konsumsi garam yang berlebihan. (N)
Olahraga Meredam Hipertensi

Untitled 1Dr Sadoso Sumosardjuno, SpKO: “ Jika latihan  dilakukan berulangkali dalam jangka waktu yang panjang, lama kelamaan tekanan darah akan turun dan menetap.”

Konsumsi obat hipertensi secara teratur memang bisa membantu pengendalian hipertensi, namun  konsumsi jangka panjang dikhawatirkan menimbulkan efek samping. Obat bisa bermanfaat, tapi jauh lebih penting gaya hidup  lebih sehat yang masih banyak belum dipahami, apalagi dilakukan.

Olahraga adalah contoh aktivitas yang sudah banyak terbukti membantu pengendalian hipertensi. Aktivitas aerobik misalnya jalan cepat, bersepeda, joging, berenang bisa meningkatkan tekanan darah 110 mmHg menjadi 150 mmHg. Yang menarik, setelah ativitas aerobik selesai, tekanan darah turun ke batas normal yang bisa berlangsung selama 30-120 menit. Ini akan tampak nyata pada para pasien hipertensi.

Penurunan tensi darah secara cepat ini disebabkan karena pembuluh darah yang melebar dan relaks.  Jika latihan  dilakukan berulangkali, lama kelamaan tekanan darah akan turun dan menetap. Jadi aerobik yang teratur akan membantu menurunkan tekanan darah tanpa bergantung obat. Agar efektif, lakukan olahraga sebagai berikut:

Olahraga teratur selama 30-60 menit, 3-5 kali per minggu. Setiap berlatih, usahakan  denyut nadi mencapai batas tertentu (zone latihan) yang angkanya sesuai dengan umur.
Ukur tekanan darah setiap kali mulai dan mengakhiri latihan olahraga.
Dengan panduan dokter, kurangi dosis obat secara bertahap, misalnya dikurangi sebagian dosis, lalu dimonitor efeknya dan dikonsultasikan ke dokter. Jika tidak ada keluhan yang nyata, pengurangan dosis bisa dilanjutkan dengan terus dipantau oleh dokter. Jika sudah memutuskan untuk menyetop mengonsumsi obat, lakukan olahraga seumur hidup.
Batasi konsumsi garam dalam berbagai bentuknya, sampai hanya sekitar 1 sendok teh sehari.
Konsumsi makanan kaya potasium (kalium) yang banyak terdapat dalam sayur dan buah segar,  untuk mengimbangi konsumsi garam (sodium/natrium) yang berpotensi meningkatkan tekanan darah
Tenangkan pikiran lewat berbagai cara, misalnya bernyayi, main musik, berkebun, menari dan sebagainya.
Herba untuk Hipertensi

1 foto pakar content lapsusDr Setiawan Dalimartha: “Zat aktif dalam herba peredam hipertensi berperan sebagai diuretika juga beta-blocker.”

Sledri (Aplum graviolens)  kaya  kalium, sebagai senyawa- senyawa elektrolit. Zat aktif dalam seledri : apigenin sebagai beta-blocker , yaitu  menurunkan kecepatan pompa jantung, dan aliran darah dari jantung.  Manitol bersifat diuretika  memperbanyak pengeluaran urine.
Kumis kucing (Othosiphon stamineus) lebih sebagai diuretika.
Sambiloto (Andrographis paniculata),  zat aktifnya mengatasi penyempitan pembuluh darah .  Zat aktif flavon bersifat  antitrombosis (cegah penggumpalan). Sambiloto kaya kalium rendah natrium.
Bawang putih (Alium sativum) mengandung alisin  yang bersifat antitrombosis.
Mengkudu ( Morinda  citrifolia)  mengandung xeronin, diminum sebelum makan.
Sumber kalium yang lain: jeruk, mentimum, blewah, bit, tomat, brokoli,  kacang-kacangan.
Herba yang dapat menurunkan tekanan darah, antara lain akar alang-alang, daun sendok (mendinginkan organ hati yang panas), kumis kucing, daun salam, tempuyung (diuretik),  kayu manis, biji boroco, buah mengkudu, sambiloto (yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah).
Belimbing manis aman dikonsumsi oleh penderita hipertensi ringan dan sedang. Penderita hipertensi berat sebaiknya tidak mengonsumsi belimbing manis karena bagi penderita hipertensi berat yang sudah mendapat komplikasi ginjal  dikawatirkan terjadi keracunan..
Konsumsi buah dan sayur yang berwarna hijau, merah, kuning, karena tinggi kandungan antioksidannya yang dapat memerangi radikal bebas yang merusak organ.
Buah dan sayur yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah antara lain seledri besar (celery), mentimun, belimbing buah, dan rambut jagung.
JENIS OBAT  HIPERTENSI (jika diperlukan) :

Beberapa jenis obat hipertensi berikut ini biasa diresepkan oleh dokter, berikut  perannya dalam pengendalian tekanan darah.

Diuretika. Membantu ginjal mengeluarkan kelebihan cairan dan garam dari dalam tubuh. Berkurangnya cairan dalam darah akan mengurangi tekanannya.
Beta blocker. Memperlambat detak jantung  dan menurunkan kekuatan kontraksi jantung sehingga aliran darah yang terpompa lebih sedikit, tekanan darah pun akan berkurang.
Angiotensin  Converting Enzyme  (ACE) Inhibitor
Mencegah tubuh memproduksi hormon  angiotensin  yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Jika diameter pembuluh  melebar, tekanannya turun.
Calsium channel blocker.  Memperlambat laju kalsium  yang melalui otot  jantung dan yang masuk ke dalam pembuluh darah. Ini menyebabkan pembuluh darah relaks dan aliran darah lancar.
Vasodilator. Bekerja langsung pada otot pembuluh darah  dengan menimbulkan relaksasi otot sehingga pembuluh  darah  tidak menyempit dan tekanan darah berkurang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKANAN MENTAH ?

Perkenalkan, Dr. Tan Shot Yen

Hidup sehat ala dr. Tan Shot Yen